Jumat, 23 November 2012

KEPEKAAN SOSIAL DALAM KEBEBASAN BEREKSPRESI

      Kita dapat meng-istilahkan era sekarang ini sebagai era kebebasan ber-ekspresi. Hal ini dibuktikan dengan makin terbukannya sistem politik yang berdemokrasi yang notabene menjamin kebebasan berpendapat dan berkelompok. Juga dalam bidang yang lain kebebasan ini mulai dapat dilaksanakan seperti dalam hal kemasyarakatan, berbisnis, seni, dan bahkan pergaulan. Tentu dari sudut pandang perkembangan kehidupan berbangsa kedepan hal ini sangat menguntungkan karena membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi setiap individu untuk mengoptimalkan (mengekspresikan) sumber daya, bakat, dan keinginan yang dimilikinya tanpa takut oleh tekanan-tekanan dari pihak penguasa.
      Kebebasan semacam ini akan memacu persaingan yang positif dikalangan masyarakat sehingga secara keseluruhan akan memberikan stimulasi yang berarti bagi kemajuan bangsa nantinya. Kita bisa bayangkan apabila sistem yang dijalankan di negara ini bebas dari yang namanya manipulasi dan rekayasa, maka kemajuan itu akan dicapai oleh karya-karya terbaik warga negara ini yang telah sadar dan mampu memanfaatkan kebebasan ber-ekspresi tersebut. Satu kalimat yang tepat adalah "kompetisi yang sehat, baik, dan fair akan menghasilkan kondisi-kondisi puncak".
      Nah, harapan yang besar akan keberhasilan era kebebasan ini tentu saja tidak boleh melupakan kita untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif yang mungkin timbul. Bahwa dalam kondisi kehidupan yang bebas dan penuh persaingan ini akan memunculkan kecenderungan-kecenderungan baru, diantaranya adalah pola menghalalkan segala cara, sifat individualisme yang berlebih, kurangnya kontrol sosial, sifat eksklusivisme beragama, permisifisme, pudarnya sifat kekeluargaan, dan menurunnya kepekaan social.
      Tak ayal lagi kondisi-kondisi seperti ini akan berdampak bagi munculnya praktek-praktek yang meyimpang seperti yang sering kita lihat di TV setiap hari.  Secara keseluruhan kehidupan seperti ini akan menciptakan golongan-golongan yang kalah dan terpinggirkan. Mereka miskin, stress, terbuang, susah, dan mungkin terlempar dari masyarakatnya. Kita dapat memahami bahwa sebenarnya mereka terkondisi oleh keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan akses sosial, maupun ketidakberuntungan.
      Untuk itulah kita sebagai umat beragama yang berbangsa tidak sepatutnya membiarkan hal ini berkangsung terus-menerus. Mereka adalah saudara kita. Mereka harus kita dekati, kita bantu dan kita atasi permasalahannya. Setiap individu harus menghayati pentingnya kesetiakawanan dan kepekaan sosial. Janganlah selama 24 jam sehari kita hanya memikirkan kepentingan pribadi dan menahan keinginan untuk berbagi kepada sesama. Selama hati nurani masih membisiki kita tampaknya itulah jalan yang mesti kita tempuh. Tetapi apabila nafsu yang buruk lebih menguasai kita maka ia akan membawa kepada kekejaman dan kehancuran. Wallahu'alam.

Senin, 05 November 2012

BAHAYA KEMISKINAN

      Angka-angka statistic dewasa ini telah menunjukkan kepada kita bahwa angka kemiskinan masih relatif tinggi di Indonesia. Keluarga-keluarga miskin masih banyak dijumpai di pedesaan maupun perkotaan dimana mereka terhimpit oleh kesulitan memenuhi kenutuhan hidup sehari-hari maupun kebutuhan pendidikan dan lapangan pekerjaan bagi anak-anaknya. Dilihat dari pola kehidupan mereka yang sehari-harinya diliputi kesusahan maka berbagai akibat negatif dapat timbul dari kehidupan seperti itu terutama yang berdampak bagi anak-anak mereka.
      Diantara dampak negatif tersebut adalah timbulnya tekanan psikologis bahkan handicap seperti ; rasa minder dan malu, kurang pendidikan, gelisah, kebodohan dan kesempitan cara pandang. Bagi mereka anak-anak tidak mampu tentulah banyak sekali keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi akibat kemiskinan orang tua. Akibatnya mereka selalu menyimpan bahkan kadang disertai amarah keinginan-keinginan itu di dalam hatinya dan ini tentu menimbulkan keburukan-keburukan dikemudian hari. Selain itu anak menjadi takut menginginkan sesuatu karena mungkin takut dengan tekanan orang tua sehingga si anak menjadi terbatas aktifitas, kreatifitas, bahkan dapat menghambat imajinasinya. Bisa jadi karena hal demikian itu maka anak melampiaskannya dengan melakukan hal-hal yang tidak wajar sehingga akan makin memperparah kepribadian maupun kecerdasan anak. Hal inilah yang kurang kita sadari bersama.
      Yang kedua adalah kelemahan fisik. Anak-anak miskin sangat kurang asupan gizi dalam tubuhnya sehingga menjadi lemah kerja sistem organ tubuhnya. Keadaan ini tentu saja tidak menopang kebutuhan aktifitas-aktifitas kerjanya di kemudian hari. Anak menjadi lemah menghadapi stres, mudah sakit, dan di kemudian hari akan mempengaruhi tingkat produktifitasnya.
      Dari yang telah dijelaskan di atas maka tidak heran sering kita jumpai orang-orang miskin yang sulit keluar dari keadaannya bahkan sampai keturunannya karena telah terkondisikan seperti tersebut di atas semenjak masa kecilnya. Hal ini memang menjadi lingkaran setan yang mesti dicari solusi pemecahannya. Untuk itu perlu ditempuh cara-cara seperti ;

1. Menghilangkan kemiskinan terstruktur. Yaitu kemiskinan yang seolah dilanggengkan oleh hubungan antara penguasa, orang kaya dan orang miskin dimana mereka mempunyai kepentingan yang berbeda untuk kelangsungan kekuasaannya dan kehidupannya. Dalam hal ini tentu saja posisi orang miskin akan terpinggirkan. Ditambah lagi dengan tekanan berbagai rupa seperti eksploitasi nasib orang miskin, dimakan hartanya / dikorupsi dan dirampas hak-haknya. Keadaan seperti ini tidak boleh dibiarkan terus menerus.

2. Menciptakan sistem yang adil. Sudah sepantasnya bagi pemerintah untuk terus menerus memperbaiki sistem perekonomian sehingga memungkinkan bagi si kaya mau menyerahkan zakat untuk didistribusikan kepada si miskin. Bagi pejabat pemerintah dilarang menggunakan keuangan yang bersumber dari rakyat untuk kepentingan pribadi serta harus diupayakan pemberantasan korupsi secara tuntas.

      Meskipun dalam faktanya kemiskinan sulit untuk dihapus, tetapi paling tidak pemerintah mau terus menerus memikirkan nasib dan kebutuhan mereka. Hal ini perlu dibarengi tindakan nyata dan kesadaran bahwa memperbaiki nasib kaum miskin berarti memperbaiki kualitas bangsa secara keseluruhan.