Kita dapat meng-istilahkan era sekarang ini sebagai era kebebasan ber-ekspresi. Hal ini dibuktikan dengan makin terbukannya sistem politik yang berdemokrasi yang notabene menjamin kebebasan berpendapat dan berkelompok. Juga dalam bidang yang lain kebebasan ini mulai dapat dilaksanakan seperti dalam hal kemasyarakatan, berbisnis, seni, dan bahkan pergaulan. Tentu dari sudut pandang perkembangan kehidupan berbangsa kedepan hal ini sangat menguntungkan karena membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi setiap individu untuk mengoptimalkan (mengekspresikan) sumber daya, bakat, dan keinginan yang dimilikinya tanpa takut oleh tekanan-tekanan dari pihak penguasa.
Kebebasan semacam ini akan memacu persaingan yang positif dikalangan masyarakat sehingga secara keseluruhan akan memberikan stimulasi yang berarti bagi kemajuan bangsa nantinya. Kita bisa bayangkan apabila sistem yang dijalankan di negara ini bebas dari yang namanya manipulasi dan rekayasa, maka kemajuan itu akan dicapai oleh karya-karya terbaik warga negara ini yang telah sadar dan mampu memanfaatkan kebebasan ber-ekspresi tersebut. Satu kalimat yang tepat adalah "kompetisi yang sehat, baik, dan fair akan menghasilkan kondisi-kondisi puncak".
Nah, harapan yang besar akan keberhasilan era kebebasan ini tentu saja tidak boleh melupakan kita untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif yang mungkin timbul. Bahwa dalam kondisi kehidupan yang bebas dan penuh persaingan ini akan memunculkan kecenderungan-kecenderungan baru, diantaranya adalah pola menghalalkan segala cara, sifat individualisme yang berlebih, kurangnya kontrol sosial, sifat eksklusivisme beragama, permisifisme, pudarnya sifat kekeluargaan, dan menurunnya kepekaan social.
Tak ayal lagi kondisi-kondisi seperti ini akan berdampak bagi munculnya praktek-praktek yang meyimpang seperti yang sering kita lihat di TV setiap hari. Secara keseluruhan kehidupan seperti ini akan menciptakan golongan-golongan yang kalah dan terpinggirkan. Mereka miskin, stress, terbuang, susah, dan mungkin terlempar dari masyarakatnya. Kita dapat memahami bahwa sebenarnya mereka terkondisi oleh keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan akses sosial, maupun ketidakberuntungan.
Untuk itulah kita sebagai umat beragama yang berbangsa tidak sepatutnya membiarkan hal ini berkangsung terus-menerus. Mereka adalah saudara kita. Mereka harus kita dekati, kita bantu dan kita atasi permasalahannya. Setiap individu harus menghayati pentingnya kesetiakawanan dan kepekaan sosial. Janganlah selama 24 jam sehari kita hanya memikirkan kepentingan pribadi dan menahan keinginan untuk berbagi kepada sesama. Selama hati nurani masih membisiki kita tampaknya itulah jalan yang mesti kita tempuh. Tetapi apabila nafsu yang buruk lebih menguasai kita maka ia akan membawa kepada kekejaman dan kehancuran. Wallahu'alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar